Saturday, January 7, 2012

Solar Cel, Nano Technology,...... What Else?

Mahasiswa Master Universitas Osaka, Jepang Bidang Nanoteknologi, Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Osaka-Nara (PPI-ON) Jepang

Apakah negara kita sudah mulai sadar akan krisis energi yang mengancam keterlangsungan kehidupan ini? Pertanyaan itu harus muncul dan ada di setiap pikiran mayarakat Indonesia. Sepertinya slogan dan semboyan hemat energi di negara kita sudah tidak kurang-kurangnya didengung-dengungkan. Baik melalui spanduk, papan reklame atau bahkan acara-acara promosi di media massa seperti koran dan televisi. Tetapi kalau melihat kondisi kenyataan kehidupan sehari-hari sepertinya perilaku kita masih jauh dari sadar apalagi peduli terhadap krisis energi ini.

Contoh sederhana adalah semakin meningkatnya tingkat penggunaan kendaraan pribadi dibandingkan transportasi massal yang handal dan baik. Meningkatnya jumlah kendaraan yang melintas di jalan raya, selain memberikan dampak kemacetan yang berujung kepada pemborosan waktu kerja efektif juga memberikan dampak luar biasa terhadap cadangan energi berupa bahan bakar solar dan premium di pasaran.

Ketika setiap keluarga atau bahkan anggota keluarga memiliki satu buah kendaraan dapat dibayangkan betapa besar konsumsi bahan bakar per harinya jika dibandingkan dengan angkutan massal semisal kereta api yang dengan satu armada dapat mengangkut banyak orang dengan waktu yang sama. Prilaku ini kemudian diperparah dengan masih merajalelanya tingkat penebangan hutan secara liar tanpa memperhatikan usaha penghijauan dan reboisasi.

Sumber energi berupa kayu pun tengah berada pada krisis yg mengerikan. Belum lagi pencemaran sumber air bersih menjadi masalah yang belum terselesaikan dalam agenda pembangunan nasional. Padahal negara-negara di sekitar garis khatulistiwa termasuk Indonesia merupakan produsen terbesar kayu dunia, bisa dibayangkan jika sumber cadangan kayu utama dunia saja sudah terancam habis apa yang bisa diharapkan untuk menyambung keterlangsungan hidup.

Saat ini banyak negara di dunia yang sudah mulai sadar dan khawatir akan krisis energi yang mengerikan ini. Sehingga tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh kecuali dua hal utama yaitu gerakan penghematan energi dan program penemuan sumber energi baru. Dua program besar inilah saat ini menjadi perhatian besar bagi beberapa Negara maju seperti Jepang, Amerika, Jerman dan lain-lain.

Dalam usaha penghematan energi negara Jepang dapat menjadi prototipe dan contoh bagi negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Beberapa prilaku yang mencerminkan kesadaran akan hemat energi terlihat bukan hanya dalam sikap tetapi juga dalam pola pikir masyarakatnya. Mereka sangat concern terhadap pemasalahan energi ini. Gerakan hemat listrik, hemat air, hemat bahan baku tidak hanya menghiasi layar televisi tetapi sudah mampu dicerna dan diserap oleh masyarakat yang kemudian menjadi dasar mereka untuk bertindak.

Program penanaman kesadaran ini ternyata menjadi salah satu titik berat kurikulum pendidikan dari tingkat yang paling bawah. Bagaimana siswa ditanamkan dan dicontohkan cara berhemat listrik, cinta kebersihan, menyayangi lingkungan dan lain lain. Usaha edukasi ini ternyata berhasil meresap dan menjiwai mereka walaupun telah menjadi dewasa bahkan ketika telah beranjak tua. Sehingga, pendidikan sejak dini, penanaman kesadaran sangat penting untuk memulai program besar tersebut. Kemudian akhir-akhir ini masyarakat Jepang diilhami dengan moto baru "eco, eco, eco".

Teknologi ramah lingkungan kini tengah gencar-gencarnya dikembangkan oleh Jepang, dari hal yang paling sederhana semisal kantung plastik diganti dengan kantung ramah lingkungan yang bisa dipakai berulang kali sampai dengan teknologi kelas tinggi semisal nanoteknologi. Slogan itu kini dapat ditemui di hampir seluruh bidang kehidupan. Industri otomotif semisal teknologi mobil hybrid yang merupakan perpaduan penggunaan bahan bakar minyak dan baterai yang sudah berhasil dikembangkan salah satunya oleh perusahaan raksasa Honda, juga teknologi mesin mobil yang otomatis bisa berhenti ketika berada di lampu merah juga telah berhasil diciptakan oleh Mazda.

Pengembangan teknologi yang merupakan ciri khas negara Jepang menjadi salah satu solusi antisipasi dan penanganan permasalahan krisis energi dunia. Tidak hanya itu saja pengembangan teknologi nano yang konon kabarnya merupakan pionir revolusi industri di masa depan juga gencar dan santer mejadi fokus Jepang. Taknologi nano merupakan salah satu terobosan penting dunia yang pada hakikatnya adalah eksplorasi dunia bawah selevel nano. Semboyan ini pertama kali tercetus oleh seorang ilmuwan bernama Richard Feynman yang terkenal dengan kata-katanya, "there is plenty room at the bottom".
 
Pengembangan teknologi nano selain bertujuan untuk mensukseskan penghematan besar-besaran juga untuk usaha penemuan energi baru yang belum terpikirkan manusia sebelumnya. Teknologi nano salah satunya dapat mudah dipahami dengan istilah miniaturisasi teknologi. Kaitannya dengan hemat energi, teknologi ini sudah dengan mudah bisa menjawab bahwa dengan semakin kecil sebuah bahan dibuat semakin kecil pula konsumsi energi yang diperlukan.
Pengambangan teknologi nano kini telah diterapkan ke berbagai teknologi yang sudah tersedia, seperti teknologi IC (integrated circuit), semikonduktor, mesin-mesin atau bahkan industri berat dan otomotif. Salah satu keberhasilan teknologi nano dapat dirasakan pada miniaturiasi televisi. Pada awal munculnya TV masih berupa tabung yang sangat besar, kemudian sterlah ditemukan teknologi CRT (cathode ray tube) dimensinya berubah drastis menjadi cukup kecil, setelah itu ketika teknologi layar plasma mulai ditemukan, tabung televisi yang biasanya berada di bagian belakang TV bisa direduksi dan ukurannya pun kian kecil dan ramping.

Akhir-akhir ini teknologi layar organik juga telah berhasil ditemukan walaupun belum diproduksi secara massal tetapi layar TV yang tebalnya kurang lebih setebal plastik telah berhasil ditemukan dan siap dinikmati beberapa waktu ke depan. Terobosan luar biasa ini diprediksikan akan menjadi salah satu solusi permasalahan krisis energi dunia. Penelitian-penelitian di bidang nano memang masih terpusat di beberapa negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, Jerman, Spanyol, dan juga Turki.

Di samping memerlukan biaya yang tidak kecil teknologi ini juga memerlukan dasar yang kuat untuk teknologi di level mikronya. Di Indonesia, perkembangan teknologi nano ini tidak sepesat dan seintensif seperti di negara-negara maju. Keterbatasan dana dan juga sumber daya manusia yang menggeluti dunia nano ini menjadi salah satu penyebab kurang berkembangnya teknologi ini di tanah air.

Selain itu, tekonologi-teknologi lain seperti biomassa, sel solar dan lain-lain merupakan salah satu implikasi ditemukannya sumber energi baru dunia. Sebagai negara agraris Indonesia menjadi negara yang sangat potensial dalam pengembangan teknologi biomassa ini. Bahan bakar bio-mass diperoleh dari pengolahan sumber-sumber energi organik sepertii jagung, ketela, pohon jarak, gandum dan lain-lain. Walaupun belum terbukti secara jelas tekonologi biomassa mampu menjadi alternatif sumber energi baru tetapi setidaknya pengembangan teknologi ini memberikan sedikit harapan ditemukannya sumber energi alternatif.

Di teknologi sel solar, Jepang telah berhasil mengembangkan teknologi ini dan juga menerapkan di berbagai kehidupan seperti ponsel sel solar, kemudian sumber energi listrik untuk titik-titik service area di jalan tol, penerangan lampu jalanan, dan lain-lain. Tetapi sepertinya teknologi sel solar diprediksi kurang mampu menjadi alternatif sumber energi massal dunia, sehingga teknologi ini diarahkan kepada beberapa sektor yang tidak memerlukan banyak energi, seperti service area (tempat peristirahatan) di jalan tol, rumah-rumah pribadi dan lain lain.

Teknologi ini lebih tepatnya menjadi pendukung ditemukannya sumber energi massal lainnya yang lebih andal dan dapat diproduksi secara besar-besaran.

Gerakan hemat energi dan juga semangat penemuan sumber energi baru harus menjadi agenda penting pembangunan ke depan. Tugas penyelamatan bumi dari krisis energi menjadi tanggung jawab semua manusia yang berada di muka bumi ini, termasuk Indonesia sebagai salah satu negara sumber energi dunia.

Friday, January 6, 2012

What Should We Choose??

Global Warming (Pemanasan global) adalah permasalahan yang sedang kita hadapi di dunia saat ini. Dampaknya memberikan efek yang negatif pada bumi, dengan mulai mencairnya es di Kutub Utara, punahnya species hewan dan tumbuhan, juga berakibat pada memburuknya kesehatan manusia. Salah satu penyebabnya adalah pembakaran BBM (Bahan Bakar Minyak) yang merupakan konsumsi terbesar umat manusia di dunia yang dapat mengemisi CO2 dan memicu pemanasan bumi. Penggunaan BBM memang belum bisa tergantikan karena belum siapnya energi alternatif, sementara persediannya mulai menipis dan harganya yang melonjak tinggi.

Dari sekian banyak penggunaannya di seluruh belahan dunia, sebuah kota besar paling banyak konsumsinya dibandingkan dengan wilayah / daerah lain seperti pedesaan, suburbs dll. Bila dipersentasikan, kota memakan lebih dari 70 % energi. Saat ini memang di setiap perkotaan, masyarakatnya mulai disadarkan untuk peduli lingkungan. Sering kita dengar, seperti GO Green, Green City, Green Concept, Green Living, Green Development dan banyak slogan lainnya. Banyak juga diadakan event – event seperti tanam sejuta pohon, green concert, pembagian bibit tanaman gratis dll. Semuanya menyuarakan agar menjaga lingkungan kota tetap hijau.
Walaupun pada prakteknya akan ditemui berbagai kesulitan / hambatan karena banyaknya kepentingan dari berbagai pihak terutama dari sisi komersialitas. Banyak dibangunnya Apartemen, Office, Mal dan pusat perbelanjaan lainnya menunjukkan bahwa porsi hijau yang kita gembor - gemborkan itu tidak sebanding dengan hutan – hutan beton yang terus berdiri setiap tahunnya. Seharusnya, area hijau memiliki tempat yang lebih banyak dalam sebuah kota. Karena hanya pepohonan & tanaman hijau lah yang dapat mengurangi pembakaran BBM atau emisi CO2 di udara.
Dari uraian di atas mungkin dapat sedikit disimpulkan, kita belum bisa membentuk sebuah kota hijau untuk mengatasi global warming. Kita perlu memandang permasalahan tersebut dari sisi yang lain; Seperti dengan menghemat energi BBM ataupun menciptakan energi alternatif. Sehingga mengurangi pembakaran BBM di udara karena minimalnya penggunaan dan lebih menggunakan bahan bakar lain yang lebih ecofriendly atau bersahabat dengan lingkungan.
Jadi lebih tepat kita berusaha untuk membentuk sebuah kota hemat energi daripada sebuah kota hijau untuk mengatasi permasalahan global warming. Walaupun dalam kota hemat energi berupaya meminimalisasi penggunaan energi namun tidak akan mengganggu atau tetap bisa untuk penyelenggaraan aktifitas warga kota. Dalam setiap bagiannya dari sebuah kota, bisa kita ambil beberapa konsep atau strategi untuk membentuk kota hemat energi. Sebuah kota dibagi ke dalam sub - sub seperti warga kota itu sendiri, hunian / rumah tinggal, fasilitas perkotaan (sekolah, rumah sakit, kantor, bangunan publik dll.), transportasi atau akses dan ruang terbuka hijau. Untuk menciptakan konsep kota hemat energi maka perlu dijabarkan dan ditelusuri dari sub – sub kota tersebut di atas.
Pertama, hunian / tempat tinggal / perumahan; ada 3 aspek yang bisa kita ambil, yaitu : Akses masuk ke dalam perumahan. Fenomena yang sekarang terjadi di Indonesia, akses tersebut terlalu jauh ke dalam sehingga warganya harus menggunakan kendaraan bermotor yang tentunya pemborosan BBM sementara itu juga tidak adanya jalur pedestrian yang berselasar / beratap, sehingga warganya lebih memilih untuk menggunaan kendaraan umum. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan kembali dengan membuat akses yang lebih dekat ke dalam perumahan terutama perlu dipikirkan kembali bagi pemerintah maupun pengembang swasta yang membangun perumahan.
Aspek kedua, Orientasi bangunan perumahan. Kondisi perumahan yang ada sekarang, orientasi tidak terlalu diperhatikan. Dengan memperhatikan orientasi bangunan maka akan memaksimalkan perolehan sinar matahari ke dalam rumah dan akan lebih hemat energi karena tidak diperlukan cahaya lampu / listrik di siang hari. Yaitu dengan menghadapkan bangunan ke arah selatan, ruang utama menghadap selatan sementara ruang pendukung menghadap utara.
Aspek ketiga adalah penataan bangunan. Perencanaan yang baik dalam sebuah kompleks perumahan sangatlah diperlukan. Warga tidak perlu menggunakan kendaraan hanya untuk membeli kebutuhan rumah yang sangat jauh jaraknya. Oleh karena itu perlu dibuat fasilitas komersial ataupun toko yang jaraknya dekat dengan rumah yang memungkinkan untuk penghuninya berjalan kaki menuju ke sana.
Kedua, Fasilitas perkotaan yang berupa bangunan juga perlu diperhatikan agar dapat menghemat energi yaitu dengan membuat rancangan pasif dengan memperhatikan aspek – aspek sebagai berikut : orientasi bangunan utara – selatan, memanfaatkan cahaya matahari tidak langsung bagi penerangan ruang dalam bangunan, meminimalkan radiasi panas / cahaya matahari langsung dari plafon maupun dari luar bangunan, meminimalkan penggunaan elemen kaca pada bangunan tinggi, mengoptimalkan ventilasi silang (meminimkan penggunaan AC), mengurangi pelapisan permukaan tanah dengan material keras (aspal, beton, dsb.) untuk mengurangi pemanasan lingkungan sekitar bangunan dan beberapa aspek lainnya.
Bangunan hemat energi juga harus didesain sesuai dengan iklim lingkungan setempat, karena dari contoh yang sudah ada, banyak bangunan – bangunan di Indonesia yang banyak menggunakan elemen kaca yang sebenarnya sangat tidak cocok dengan iklim tropis dan dapat mengakibatkan efek rumah kaca yang juga salah satu faktor penyebab global warming. Selain itu, perlu juga disosialisasikan untuk bangunan – bangunan yang menggunakan energi alternatif / energi yang bisa diperbaharui seperti sel surya / cahaya matahari, energi angin atau energi biofuel.
Beberapa fasilitas penunjang dalam sebuah bangunan juga bisa dijadikan aspek hemat energi, seperti pemakaian lampu, eskalator, ataupun lift. Dengan teknologi saat ini, dapat memungkinkan untuk berhemat energi karena adanya sistem canggih yang mapu membuatnya menjadi otomatis. Sehingga akan bisa hidup atau hanya bisa dipakai bila ada sensor manusia yang berada di dalam atau yang sedang beraktifitas di dalam bangunan. Bila tidak terpakai, sistem tersebut akan otomatis mematikan penggunaannya.
Dalam upaya membangun kota hemat energi, beberapa langkah perencanaan transportasi dan manajemen lalu lintas yang bisa dipraktekkan adalah sebagai berikut:

1. Membangun dan menyediakan sarana dan prasarana transportasi publik/masal yang efisien dan representatif

Tak ayal lagi, konsumsi energi terbesar bagi kota-kota adalah dari sektor transportasi ini. Inilah sektor yang paling vital yang menandai denyut kehidupan sebuah kota. Sebuah kota bisa dianggap mati jika di dalamnya tidak ada dinamika pergerakan penduduk dari satu tempat ke tempat yang lain. Makin besar skala sebuah kota, dapat dipastikan makin banyak pula jumlah orang yang bergerak di dalam kota setiap waktunya. Oleh karenanya perencanaan dan pengelolaan sistem transportasi publik/masal yang baik, efisien dan representatif serta pengaturan/manajemen yang tepat akan menjadi faktor kunci bagi penghematan energi di kota.

Penyebab utama tidak hematnya sektor transportasi di berbagai kota di dunia hampir selalu dipastikan karena banyaknya kendaraan pribadi yang memenuhi jalan-jalan di kota. Dengan penentuan sistem dan penyediaan sarana transportasi masal dan efisien, diharapkan banyaknya pengguna mobil pribadi akan berkurang dan beralih kepada transportasi masal ini. Syaratnya, transportasi masal haruslah representatif, efisien, aman, dan nyaman.
Karena sifatnya masal dan efisien, harga semestinya juga bisa murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat sehingga juga dapat menekan anggaran transportasi bagi masyarakat luas. Selain itu peraturan daerah/kota bisa dibuat sedemikian hingga menggunakan transportasi masal menjadi lebih hemat dibanding dengan memakai kendaraan pribadi, sehingga ini semakin mendorong sebagian besar masyarakat beralih ke transportasi masal ini.

Melalui sistem transportasi publik/masal yang efisienlah sebuah kota (bahkan negara) bisa sangat menghemat energi, karena pergerakan penduduk dapat diangkut dalam jumlah yang besar pada waktu yang sama. Menengok kota-kota besar di negara maju seperti Jepang, andalan utama transportasi masalnya adalah kereta listrik (densha) atau kereta listrik bawah tanah/subway (cikatetsu) yang bisa mengangkut ribuan orang pada waktu bersamaan ketika jam sibuk. Selain praktis, aman dan nyaman, harga pun sangat terjangkau bagi masyarakat luas untuk ukuran masyarakat di Jepang, juga ketepatan waktunya dapat dijamin dalam hitungan menit.

Di kota-kota besar di Jepang, kita akan menemukan sistem kereta listrik yang sangat efisien yang menghubungkan sub urban dengan area pusat kota. Kereta-kereta itu pun hampir selalu dipenuhi ribuan penumpang. Selain itu, kereta-kereta listrik lokal dengan frekuensi yang sangat tinggi juga siap melayani penumpang di dalam area metropolitan. Sebagai misal pada Yamanote Line, salah satu jalur loop Kota Tokyo, kereta-keretanya berlari setiap tiga menit sekali di siang hari.

Sebagai gambaran dominannya penggunaan transportasi masal kereta listrik bawah tanah juga bisa dilihat di kota Nagoya, kota terbesar ketiga di Jepang. Sejak 15 November 1957, kota ini telah mulai mengoperasikan jalur subway pertamanya yakni jalur Nagoya-Sakae. Kini, ia telah memiliki banyak jalur kereta listrik bawah tanah dengan panjang total 89 km yang mengangkut penumpang mencapai rata-rata 1.100.000 orang perharinya. Sementara sistem bus dalam kotanya yang telah beroperasi sejak 1 Februari 1930 dan kini telah memiliki panjang jalur 746 km hanya mengangkut sejumlah 318.000 orang perharinya (data tahun fiskal 1 april 2004).


Paling tidak hingga saat ini, jenis transportasi masal yang paling efisien dan mendekati ideal adalah kereta listrik. Selain ia dapat mengangkut orang dalam jumlah yang banyak, terjaminnya ketepatan waktu karena tidak pernah terjebak macet, ia juga tidak mengeluarkan gas buangan yang mencemari lingkungan sebagaimana jenis kendaraan lainnya yang mengunakan BBM seperti mobil atau bus. Lebih dari itu, jika jalurnya dibangun di atas tanah dengan rel yang disangga pilar-pilar atau dibangun di bawah tanah (subway) seperti di Jepang, maka ia tidak akan mengganggu kondisi permukaan tanah (untuk daya serap terhadap air, bandingkan dengan pembuatan jalan-jalan raya atau tol) dan juga tidak mengurangi ruang terbuka kota kecuali sedikit saja.

Namun, sekadar intermezzo - untuk kota semacam Jakarta yang sudah menjadi langganan banjir setiap tahunnya, tentu sistem kereta listrik bawah tanah tidak bisa diaplikasikan begitu saja karena musibah banjir membutuhkan pencegahan dan penanganan tersendiri lebih dulu. Bisa dibayangkan jika sistem kereta listrik bawah tanah dijalankan sementara kotanya sendiri masih belum bebas banjir atau pemerintah daerahnya masih kewalahan menangani banjir seperti sekarang, bisa jadi ruang bawah tanahnya menjadi kuburan masal penduduk kota yang mati tenggelam saat terjadi banjir.

Kalau tidak menggunakan kereta listrik, pemakaian bus juga bisa dilakukan sebagaimana yang telah ada sekarang yakni sistem busway transjakarta (koridor 1). Menurut survey terakhir tahun 2004 oleh ITDP (Institute of Transportation and Development Policy) yang berkantor pusat di New York, ada sekitar 7 persen pengguna kendaraan pribadi di Jakarta yang telah beralih menggunakan bus transjakarta ini. Angka itu tentu masih belum banyak mengubah kondisi jalan-jalan di Jakarta yang tetap penuh dengan kendaraan pribadi.

Salah satu contoh terbaik penggunaan transportasi masal bus ini bisa dilihat di Kota Curitiba, Brasil. Kota yang luas areanya 432 km2 dan jumlah penduduk 1,6 juta jiwa ini mengoperasikan 5 tipe angkutan bus dengan daya angkut hingga 270 penumpang. Satu di antaranya yang terkenal adalah tipe busway seperti yang dipraktekkan di Jakarta tersebut. Sebanyak 1100 bus membuat 12.500 total perjalanan sehari dapat mengangkut sebanyak 1,3 juta penumpang perharinya. Ini telah berhasil mengurangi ketergantungan warga kota pada mobil pribadi, dan meningkatkan penumpang hingga 50 kali lipat dibanding 20 tahun sebelumnya.

Penduduk pun hanya mengeluarkan 10% dari pendapatan tahunan mereka untuk belanja transportasi (bandingkan dengan di Jakarta, yang sebelumnya 15%, kini diperkirakan mencapai 20% pasca kenaikan BBM per 1 oktober 2005 yang lalu). Lebih dari itu, kota Curitiba juga mampu menurunkan konsumsi BBM perkapita penduduk rata-rata hingga 30% lebih rendah dibandingkan dengan 8 kota lainnya di Brasil. Tak heran jika ia disebut-sebut juga sebagai salah satu kota dengan tingkat polusi terendah di dunia.

Bandingkan juga dengan situasi transportasi masal di Kota Bandung. Kota dengan luas area hanya 167 km2 (hanya 39% nya luas Curitiba) dan berpenduduk 2,5 juta jiwa ini (1,5 kali lipat lebih besar dengan Curitiba) mengoperasikan mobil kecil-kecil (biasa disebut sebagai angkot/angkutan kota) yang berdaya angkut hanya 10-15 orang sebagai transportasi masal utama. Kini jumlah angkot telah mencapai lebih dari 5.500 unit (5 kali lipat lebih banyak dengan jumlah bus di Curitiba) dengan panjang trayek total 437km (data Juni 2004).


Oleh sebab kapasitas per-unitnya yang kecil ini, efisiensi energinya jelas jauh dari optimal karena menuntut jumlah unit yang banyak sehingga juga menambah volume polusi udara, belum lagi kondisinya pun sama sekali tidak nyaman. Bahkan, karena jumlahnya yang banyak dan berebut jalan dengan banyaknya kendaraan pribadi, ditambah dengan tidak adanya kejelasan di mana ia berhenti dan di mana ia menaikkan penumpang (karena di mana saja bisa berhenti dan di mana saja bisa menaikkan penumpang) maka sering pula malah menimbulkan kemacetan.

Dengan uraian di atas, jelaslah betapa pentingnya masalah transportasi publik/masal ini bagi penghematan energi di kota. Keseriusan perencanaan dan pengelolaannya akan menjadi salah satu faktor kunci bagi pembangunan kota yang hemat energi. Tidak hanya itu, menurut hemat penulis bahwa satu indikasi paling kuat dari keseriusan pemerintah daerah/kota mengelola sebuah kota, dapat dilihat dari sejauh mana keseriusannya merencana dan mengelola transportasi publik/masal ini. Dengan kata lain, kondisinya adalah satu cermin apakah sebuah kota itu dikelola dengan baik atau tidak.


source 
1 dan 2

Sunday, November 27, 2011

Arsitektur Ramah Lingkungan Indonesia


Dunia arsitektur Indonesia patut berbangga, awal bulan Mei 2011 ini, 5 tim arsitek berhasil menjuarai kompetisi internasional arsitektur ramah lingkungan FuturArc Prize 2011. Kompetisi yang diadakan oleh Jurnal Arsitektur BCI (Building and Construction Interchange) Asia ini diikuti 500 peserta dari berbagai penjuru dunia.
Salah satu pemenang yang mendapatkan Citation Awards untuk kategori profesional adalah tim yang diketuai oleh arsitek Effan Adhiwira dari Bali beranggotakan Fian Rakhmania Arrafiani, Theresia Sjabanie Rendri, Nidia Safiana Redha Kinanti. Tim ini menang lewat karya mereka bernama Eco Culture Park. Kemenangan tim ini karena menitikberatkan pada pemberdayaan isu lokalitas material dan optimalisasi daur ulang sampah.
“Fenomena masyarakat kita yang tergila-gila mengimpor teknologi dan gaya dari negara maju menyebabkan tingginya angka jejak karbon (carbon footprint). Juga masalah pengelolaan sampah yang tak profesional, membuat kami mengangkat isu lokalitas material dan optimalisasi daur ulang sampah,” kata Effan.
Dalam tantangan FuturArc 2011 ini, terdapat syarat pembatasan area sumber material bangunan yang hanya boleh digunakan dalam radius 1.000 kilometer dari lokasi bangunan. Merasa tertantang, Effan dan kawan-kawan menyempitkan pembatasan area dalam radius 100 kilometer dari lokasi bangunan.
“Kami memberi nama Eco Culture Park, sebuah tempat berbudaya, tempat berkumpul, dan bersosialisasi. Ini sebuah galeri, tempat workhshop, teater yang ditunjang restauran dan gerai komersial. Ide pengembangan tempat ini di Bali tepatnya Pulau Serangan. Dimana daerah ini tengah dikembangkan pemerintah Bali sebagai alternatif baru pariwisata,” ujarnya.
Seperti apa ide pengembangan bangunan yang menonjolkan isu lokalitas dan optimalisasi daur ulang sampah?
1. Rammed Earth (tanah kompak) sebagai material dinding.
Rammed Earth adalah teknologi yang telah dikembangkan sejak lama, berupa lapisan dinding atau lantai yang terbuat dari beberapa lapis tanah yang dikompakkan.
2. Konstruksi bambu sebagai rangka atap.
Bambu dipilih sebagai bahan pembentuk rangka struktur atap yang organik. Bambu cukup fleksibel sekaligus kuat untuk menahan beban konstruksi. Bahan ini sangat ramah terhadap lingkungan.
3. Besi bekas sebagai tulangan dinding dan lantai.
Untuk menunjang struktur rammed earth, ditambahkan rangka besi sebagai struktur pendukung di dalamnya. Besi-besi bekas dengan mudah diperoleh di sekitar lokasi bangunan.
4. Kaca mobil bekas sebagai atap rumah kaca.
Kaca mobil bekas ternyata cukup unik, baik, serta fungsional sebagai material. Benda yang terbuat dari kaca tempered dan punya lapisan film ini apabila disusun denhan baik mampu menjadi salah satu alternatif material atap atau skylight yang menarik. Material ini bisa dengan mudah diperoleh di bengkel-bengkel mobil atau karoseri angkutan umum.
5. Sirap kaleng minuman ringan sebagai penutup atap organik.
Sirap yang terbuat dari kaleng minuman yang sudah diratakan bisa menjadi material penutup atap organik. Bentuk yang organik mengharuskan bahan penutup atap dapat dengan mudah menyesuaikan rangka atap, sirap ini dapat menjadi solusinya. Penggunaan sirap ini dapat mengurangi permasalahan sampah di tempat wisata.
6. Kolase bungkus plastik detergen dan sabun sebagai penutup atap atau shading.
Penggunaan kolase bungkus plastik dengan skala besar dapat dimanfaatkan sebagai bahan penutup atap temporer. Penggunaan sistem gulung layaknya tirai dapat juga menjadi detil arsitektur yang menarik.
Dengan rancangannya ini, Effan dan timnya mengajak masyarakat untuk memanfaatkan material sekitar dan bahan daur ulang sampah untuk mengenal dan mengembangkan budaya yang berkelanjutan.
“Membuang sampah pada tempatnya adalah hal baik. Menggunakan kembali sampah secara bijak dan cerdas adalah hal yang lebih baik lagi. Mari jadikan masa depan bumi jadi lebih baik,” ujarnya.

An Important Part in Designing The City

PERAN SOSIAL RUANG TERBUKA
Dipengaruhi oleh elemen elemen-elemen fisik
arsitektur yang bisa dikategorikan dari 2 sudut pandang pandang, , yaitu :
  • Public domain atauatauopen space yang open, dimanfaatkan oleh masyarakat umum.
  • Private domain atauatauopen space yang open, berada dalam lingkup bangunan, , baik di dalam(internal void) (maupun di luar bangunan tersebut( external void).


MACAM RUANG TERBUKA
  • Hard-space (plaza, perkerasan, alun- alun)
  • Soft-space ( taman taman, , jalur hijau, air mancur, kolam)
HIRARKI RUANG TERBUKA
1. Taman kota (Fasilitas Sosial dan
Fasilitas Umum
2. Taman lingkungan (Fasilitas Umum)
3. Taman bermain anak (Children Play
Ground)
4. Taman rumah (Garden)

POLA RUANG TERBUKA DAN FASILITAS UMUM KOTA
PolaPola/ / BentukBentukRuangRuangTerbukaTerbukaterbentuk terbentuk oleh
hubungan solid solid-void yang dibatasi oleh bentuk
dan lokasi bangunan bangunan, , elemen elemen-elemen tapak
(tanaman tanaman, , dinding dinding) ) dengan jalur pergerakan /
sirkulasi sirkulasi:

  • Square / persegipersegi/ Grid
  • Oval / lingkaran/ Curvilinear / Radial / Concentric
  • Irregular / tak teratur/ Organik
  • Angular / Bersudut
  • Axial / Bersumbu
PERENCANAAN OPEN SPACE
Mempertimbangkan :
  • sebagai bagian integral dari wilayah kota
  • dan dikembangkan dengan jaringan jalan yang ada
  • peningkatan kualitas ruang kota
PERENCANAAN RUANG TERBUKA
Ada 2 ( dua dua) ) cara mengembangkan ruang terbuka :
1. Menempatkan ruang terbuka di depan sebuah bangunan yang memungkinkan bangunan terlihat lebih menonjol
2. menempatkan bangunan di tengah tengah-tengah ruang terbuka

RTH (Ruang Terbuka Hijau) perkotaan mempunyai manfaat kehidupan yang tinggi. Berbagai fungsi yang terkait dengan keberadaannya (fungsi ekologis, sosial, ekonomi, dan arsitektural) dan nilai estetika yang dimilikinya (obyek dan lingkungan) tidak hanya dapat dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan untuk kelangsungan kehidupan perkotaan tetapi juga dapat menjadi nilai kebanggaan dan identitas kota. Untuk mendapatkan RTH yang fungsional dan estetik dalam suatu sistem perkotaan maka luas minimal, pola dan struktur, serta bentuk dan distribusinya harus menjadi pertimbangan dalam membangun dan mengembangkannya. Karakter ekologis, kondisi dan ke-inginan warga kota, serta arah dan tujuan pembangunan dan perkembangan kota merupakan determinan utama dalam menentukan besaran RTH fungsi-onal ini.

Keberadaan RTH penting dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan. Pengendalian pembangunan wilayah perkotaan harus dilakukan secara proporsional dan berada dalam keseimbangan antara pembangunan dan fungsi-fungsi lingkungan.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan tersebut.
Status kepemilikan RTH diklasifikasikan menjadi (a) RTH publik, yaitu RTH yang berlokasi pada lahan-lahan publik atau lahan yang dimiliki oleh peme-rintah (pusat, daerah), dan (b) RTH privat atau non publik, yaitu RTH yang berlokasi pada lahan-lahan milik privat.

RTH, baik RTH publik maupun RTH privat, memiliki fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis, dan fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu fungsi arsitek-tural, sosial, dan fungsi ekonomi. Dalam suatu wilayah perkotaan empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan, kepenting-an, dan keberlanjutan kota.

RTH berfungsi ekologis, yang menjamin keberlanjutan suatu wilayah kota secara fisik, harus merupakan satu bentuk RTH yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti dalam suatu wilayah kota, seperti RTH untuk per-lindungan sumberdaya penyangga kehidupan manusia dan untuk membangun jejaring habitat hidupan liar. RTH untuk fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan RTH pendukung dan penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota tersebut, sehingga dapat berlokasi dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, seperti untuk ke-indahan, rekreasi, dan pendukung arsitektur kota.

Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible) seperti mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu, daun, bunga), kenyamanan fisik (teduh, segar), keingin-an dan manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible) seperti perlindungan tata air dan konservasi hayati atau keanekaragaman hayati.


source:
1 dan 2

Sunday, June 5, 2011

Dampak Positif Sahabat Terhadap Tubuh KIta ;D


Sahabat bisa diperoleh dari mana saja, dari masa kecil, bangku sekolah hingga tempat kerja. Tidak hanya berbagi sukacita, kesedihan, tawa dan saat-saat menyenangkan, sahabat atau teman yang baik juga bisa membuat Anda makin sehat.

Teman yang baik adalah yang bisa membuat Anda baik secara fisik, mental dan emosional. Para ahli bahkan meneliti bahwa persahabatan dan jejaring sosial bisa bermanfaat bagi kesehatan secara keseluruhan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Centre for Ageing Studies at Flinders University yang diikuti hampir 1.500 orang selama 10 tahun, menemukan bahwa orang yang memiliki jaringan besar dan banyak teman hidup lebih lama sebesar 22 persen.

Sedangkan penelitian lain menunjukkan bahwa orang yang memiliki teman lebih sedikit cenderung lebih cepat meninggal karena serangan jantung ketimbang orang yang memiliki jaringan sosial yang kuat.

Hal ini membuktikan bahwa teman yang baik bisa membawa manfaat kesehatan yang besar untuk Anda.

Berikut beberapa manfaat kesehatan yang diperoleh karena memiliki teman yang baik.

1. Dapat mengurangi stres

Mengapa Anda menelepon teman saat sedang banyak pikiran? Itu karena teman-teman dapat membantu Anda mengurangi tingkat stres, baik stres karena pekerjaan atau stres hubungan, hanya dengan percakapan hangat. Bercerita alias curhat dengan teman merupakan hal yang Anda butuhkan untuk dapat menghalau hormon stres.


2. Menularkan kebiasaan baik

Jika Anda memiliki teman yang mengetahui pentingnya kesehatan, mereka juga akan memberi kebiasaan baik yang sama pada Anda. Teman juga merupakan cara yang brilian untuk membuat Anda meninggalkan kebiasaan buruk seperti kebiasaan makan yang tidak sehat dan kurang olahraga. Namun, perlu dipilah kebiasaan buruk teman yang mungkin juga bisa menular ke Anda.


3. Memberi dukungan yang kuat

Ketika Anda akan melalui beberapa operasi serius atau bahkan pengobatan kanker, hal yang paling penting adalah dukungan. Jika Anda memiliki teman dekat untuk membimbing Anda melalui hari-hari menyedihkan, peluang untuk meningkatkan kelangsungan hidup akan semakin besar.


Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Oncology dan dilakukan bersama oleh University of California, San Francisco dan Berkeley/Harvard Medical School menemukan bahwa wanita didiagnosa menderita kanker payudara lebih mungkin untuk bertahan hidup jika memiliki teman dekat.

4. Menjauhkan depresi

Perawatan untuk depresi adalah persahabatan. Persahabatan bekerja seperti pesona ketika melawan depresi. Sebuah studi tahun 2002 yang dilakukan di Johns Hopkins University menemukan bahwa para manula dengan kehidupan sosial yang aktif dan memiliki banyak teman kemungkinannya kecil untuk menderita depresi.


5. Membuat Anda lebih banyak bergerak

Orang yang menghabiskan waktu lebih banyak di depan TV atau komputer kebanyakan karena merasa kesepian dan tidak memiliki teman untuk bercerita. Orang yang memiliki banyak teman dekat akan lebih memilih untuk pergi keluar, jalan-jalan atau hanya sekedar berkunjung untuk bercerita. Hal ini akan membuat Anda lebih banyak bergerak.


Dan untuk saya.. merekalah yang dapat memberikan semua manfaat itu :)








sumber: